Postingan

Di Balik Akses Digital: Sampah Yang Tak Terlihat

Gambar
E-Waste dari Menara ke Modem, Siapa Bertanggung Jawab? "Kami bongkar tower lama, tapi alatnya dibuang ke gudang. Nggak tahu harus dikemanain." Sambungan Digital, Tumpukan Limbah Setiap kali kita upgrade jaringan: dari 3G ke 4G, dari 4G ke 5G, dari kabel tembaga ke fiber optik—ada perangkat lama yang pensiun. Antena usang. Modem rusak. Kabel usang. BTS, OLT, ONT, bahkan baterai backup yang sudah tidak bisa dipakai. Namun, ke mana semua itu pergi? AP PHOTO/BEN CURTIS E-Waste: Bayangan dari Kemajuan Indonesia menghasilkan lebih dari 2 juta ton limbah elektronik setiap tahun . Dan sektor telekomunikasi menyumbang porsi yang tidak kecil , meski jarang dibahas. Yang menyedihkan: Banyak alat bekas disimpan diam-diam di gudang . Sebagian dijual ke pengepul informal tanpa standar daur ulang . Bahkan ada yang dibakar atau ditimbun sembarangan . ESG dan Circular Economy Jika kita bicara ESG, maka “E” dari Environmental tak berhenti di energi dan karbon . Ia juga menyentuh soal: Lifecycl...

Mimpi Internet Merata, Realita Listriknya Tak Ada

Gambar
Dari BTS ke Desa, Tantangan Energi di Ujung Sinyal “Jaringan sudah masuk, tapi sinyalnya cuma hidup kalau genset nyala.” Ketika Listrik Menentukan Akses Ada desa yang disambungkan ke jaringan internet oleh pemerintah. Tower berdiri. Antena terpasang. Tapi tak ada yang bisa mengaksesnya—karena tidak ada listrik untuk menyalakan perangkatnya. Inilah realita pembangunan konektivitas di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar): Infrastruktur digital tak bisa hidup sendiri. Ia bergantung pada satu hal mendasar: ENERGI. Sumber Foto: https://web.pln.co.id/cms/media/siaran-pers/2023/07/ Energi Adalah Tulang Punggung Digitalisasi Setiap site BTS, PoP, repeater, bahkan router kecil di rumah—semuanya butuh pasokan daya yang stabil. Tapi: Banyak wilayah 3T hanya memiliki listrik 6–12 jam per hari. Beberapa lokasi BTS hanya bergantung pada genset—mahal, tidak stabil, dan boros. Solar panel menjadi solusi, namun masih belum standar dan sering diabaikan dalam desain awal. ESG: Energi Terbarukan...

Infrastruktur Tak Kasat Mata

Gambar
  "Kenapa kabel bawah tanah, ducting, dan manhole itu sepenting jalan tol digital kita?" “Kalau jalan tol dibangun megah, kenapa jalur data kita masih numpang saluran air?” Jalan yang Sama, Prioritas yang Berbeda Ketika pemerintah membangun jalan tol, semua orang menyambut. Desainnya matang, anggarannya jelas, dan fungsinya kasat mata. Tapi bagaimana dengan jalur data yang menghubungkan ekonomi digital kita? Di banyak kota dan kawasan industri baru, infrastruktur digital dianggap tambahan. Jalur fiber optik sering dimasukkan belakangan, setelah jalan jadi, trotoar selesai, dan drainase ditutup rapi. Hasilnya? Galian ulang. Kabel numpang. Infrastruktur digital kita jadi tamu tak diundang dalam rumah yang seharusnya mereka miliki. Photo by Luca CarrĂ  on Unsplash Bukan Cuma Kabel, Tapi Ekosistem Kita terbiasa berpikir bahwa jaringan itu cuma “kabel dan sinyal”. Padahal ada komponen tak kasat mata yang menentukan kualitas dan efisiensi layanan: Ducting: lorong tempat kabel bi...

Green Network: Bisa Nggak, Sih?

Gambar
  Jejak emisi dan harapan hijau dalam infrastruktur telekomunikasi “Setiap swipe, scroll, dan klik—ada energi yang mengalir. Tapi energi macam apa?” Saat BTS Tak Lagi Netral Di sebuah lembah di Jawa Timur, berdiri tiga menara BTS dari operator berbeda. Letaknya berdekatan, tapi tiap menara pakai genset diesel sendiri. Suara mesinnya mendengung sepanjang malam. Ironisnya, desa itu belum teraliri listrik PLN secara merata. Infrastruktur digital tumbuh pesat, tapi seringkali tanpa pertimbangan jejak ekologis. Dalam dunia ESG, ini bukan sekadar soal efisiensi—tapi juga etika . Jejak Karbon yang Terlupakan Menurut GSMA, sektor telekomunikasi global menyumbang sekitar 2–3% dari total emisi karbon dunia . Jumlah yang tampaknya kecil, sampai kita menyadari: Ratusan ribu menara BTS menyala 24/7. Data center mengonsumsi listrik setara kota kecil. Jaringan fiber memerlukan power amplifier dan pendingin. Namun, dalam banyak laporan keberlanjutan perusahaan telko, emisi ini sering disamarkan ol...

Ketika Menara Berdiri, Tapi Sinyal Masih Hilang

Gambar
Jejak di balik konektivitas yang belum menyentuh semua Beberapa bulan lalu, saya mengunjungi sebuah desa di Jawa Timur bagian selatan. Di pinggir sawah yang lengang, tampak sebuah menara menjulang—tinggi dan kokoh. Tapi anehnya, warga tetap harus naik bukit kecil atau naik sepeda ke desa sebelah hanya untuk mengirim pesan WhatsApp. “Sudah dibangun lama, tapi belum nyala mas,” kata seorang pemuda sambil tertawa getir. Saya pun teringat pada sebuah istilah yang mulai ramai: infrastruktur tanpa layanan . Photo by Nils Rasmusson on Unsplash Menara Ada, Layanan Tidak Fenomena ini bukan hal baru. Dalam proyek Palapa Ring, pembangunan serat optik menjangkau wilayah-wilayah terluar Indonesia. Tapi hingga kini, banyak titik yang hanya “tersambung secara fisik” tanpa aktivitas digital yang bermakna. Tower dibangun, tetapi tidak semua diaktifkan atau diisi oleh operator komersial. Beberapa bahkan terbengkalai, menjadi monumen konektivitas yang tertunda. Mengapa Ini Bisa Terjadi? Jawabannya tid...

Mengapa JejakInfra Lahir: Menelusuri ESG dan Infrastruktur Telekomunikasi, Jejak Demi Jejak

Gambar
Beberapa tahun lalu, saya berdiri di sebuah desa di pelosok Indonesia, menatap menara BTS yang baru saja selesai dibangun. Sinyal 4G akhirnya menyapa penduduk setelah bertahun-tahun hanya bergantung pada isyarat alam dan obrolan lisan . Di kesempatan lainnya, saya juga membaca laporan ESG dari perusahaan yang membangun menara tersebut—penuh jargon keberlanjutan, tapi terasa jauh dari realitas tanah tempat tiang pancangnya berdiri. Di sanalah benih blog ini tumbuh.  JejakInfra lahir dari kegelisahan dan harapan. Gambar: https://www.nkrealtors.com/blog/can-reduce-huge-growing-carbon-footprint/ đŸ“¡ Telekomunikasi: Infrastruktur Tak Kasatmata, Dampak Nyata Infrastruktur telekomunikasi adalah tulang punggung zaman ini—sering tak terlihat, tapi menopang hampir seluruh aktivitas manusia modern. Namun, kemajuan jaringan sering kali tak berbanding lurus dengan pemerataan manfaat. Kota besar menari dengan konektivitas tinggi, sementara banyak daerah tertinggal menunggu giliran yang tak ku...